Wednesday, July 24, 2013

Ragu Itu Usai

"karena waktu takkan mampu berpihak pada perasaan yang meragu."

Sabtu lalu aku terakhir berkomunikasi dengannya. Aku sebel dengan Heru. Sebab dia tak mengabulkan permintaanku membelikanku boneka. Mulai sabtu lalu aku tidak membalas semua SMS dari Heru. Telponnya pun tak kuangkat. Selama 3 hari ini dia selalu mengirim SMS minimal 10 kali sehari. selalu SMS yang bernada sama. Perhatian-perhatiannya, dan selalu diakhiri dengan "maafkan aku..." Aku sebenarnya tidak marah sih, tapi aku juga gengsi untuk memaafkan dengan begitu saja. Harus lebih dari ini , Ru, untuk mendapat maafku. He he he... 

Hari ini, Rabu, aku bangun tidur kesiangan. Aku harus buru-buru agar tidak terlambat ke kampus. Di perjalanan, aku baru berfikir. Hari ini kenapa bisa aku kesiangan? Oh, itu karena tak ada ringtone yang biasanya selalu membangunkanku. Heru. Kenapa dia tidak menelponku tadi pagi? Biasanya juga jam segini aku sudah menerima SMS ucapan selamat pagi dan jangan lupa sarapan. Tapi, tidak ada. Ah tapi sudahlah. Paling nanti siang dia sudah meminta maaf karena bangun kesiangan. Hi hi hi hi... Heru... Heru...

Aku pulang kuliah sudah jam 7 malam. Oh my God! Hari ini aku sangat capek... Kulihat lagi ponselku. Tak ada satu pun SMS, Telepon, atau bahkan missed call dari Heru. Kenapa orang ini? Tumben sekali tidak meng-SMS ku sama sekali hari ini. Ingin aku mengirim SMS bertanya. Tapi gengsiku menghalangiku. Ah, tidak.

Besoknya, aku juga masih tidak mendapat SMS ataupun telepon dari Heru. Aku mulai gelisah. Ini sudah terlalu tidak biasa. Tapi aku masih terpengaruh gengsiku. Ah, aku coba miss call aja lah. Tidak terlalu mengorbankan gengsi sih kayanya. Ya sudah, akhirnya aku miss call Heru. 1 kali dering. Tuuut... kututup telponku. Aduuuuh... Aku sudah menelponnya. Gimana ini??

Di luar dugaan, tak ada balasan. Baik telpon balik maupun SMS. aku kesal. Akhirnya jam 11 malam jumat ini aku SMS saja.

"SOMBONG!" <delivered>

15 menit kemudian ada balasan:

"Kamu siapa?"

JEDEEEEEERRRR...... Kenapa Heru bilang begitu padaku? Apa maksudnya? Seketika aku langsung pusing... emosiku meluap... Ini anak sombong sekali sih??? masa aku dilupain begitu saja???

"SAYA PACARNYA HERU!" <delivered>

"Saya yang pacarnya Heru. Kamu tidak usah ngaku-ngaku"

Hah? ini pacarnya Heru? Kenapa dadaku jadi sakit begini? aku kan bukan siapa-siapanya Heru? Kenapa aku harus CEMBURU? Lama aku terdiam... Iya aku suka Heru. Hanya saja harga diriku terlalu tinggi untuk mengakuinya. Heru hanya segelintir cowok dari sekian banyak cowok yang mengejar-ngejarku. cowok yang hanya kumanfaatkan untuk membuatkan PR ku, menemaniku belanja, menemaniku ke salon... makan malam...

Aku masih terdiam... ternyata dari sekian banyak cowok, Heru adalah yang paling dekat denganku. Heru satu-satunya yang kuceritakan masalahku atau keluargaku. Heru satu-satunya yang ada saat aku putus dengan Thomas, Luki, Antok, Adit... Hanya Heru yang bisa membuatku tertawa dengan lelucon-leluconnya yang garing menjurus basi... Aku tersenyum dalam derasnya air mataku, mengingat konyolnya wajah Heru saat menirukan muka para minions di film yang baru saja kami tonton minggu lalu...

Semua itu tinggal kenangan. Heru kini sudah bisa melupakanku. Aku bukan lagi siapa-siapanya. Bukan lagi idolanya, atau sekedar gebetannya, aku kini hanyalah aku. seorang cewek bodoh yang selama ini menyia-nyiakan kasih sayang orang yang dengan tulus mencintai dan menyayangiku... Air mataku tak berhenti mengalir...

Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi. HERU! Heru meneleponku! Aku... Aku... Aku harus bagaimana?? Akhirnya aku angkat....

"Halo..."
"Bagaimana kalau benar?"
"Ap.... Bagai....."
"Iya, bagaimana kalau benar aku punya pacar dan kamu tak ada lagi di benakku?"
"Heru! Kamu bicara apa sih?"
"Jawab aja..."
"............"
"Kenapa diam?"
"Tidak mau."
"Apa?"
"Aku tidak mau."
"tidak mau apa?"
"AKU TIDAK MAU KAMU PUNYA PACAR!!"
"Hah?? Kenapa??"
"AKU YANG AKAN JADI PACAR KAMU...."

Aku menangis sekencang-kencangnya....

"Kamu kenapa bilang begitu..."
"Iya... Aku tau aku selama ini jahat sama kamu. Aku selalu manfaatin kamu. Aku cuekin semua rasa sayang kamu ke aku... sekarang aku sadar. Hanya kamu yang aku mau. Hanya kamu yang ngertiin aku..."
"lalu?"
"Aku mau jadi pacar kamu... kamu mau kan jadi pacar aku?"
"hmmm.... bagaimana ya? Hehehehe...."
“Hah? Iiiiih Heruuuu....”
Hahahaha.... bagaimana ya? Sebenarnya tanpa aku jawab pun kamu sudah tau jawabanku kan?
“hihihihi nggak tau ah... aku kan ga sotoy kaya kamu...”
Yeee... malah ngatain... ya udah gak aku kasih tau...
“eh.. eh,.. iya maaf... apa jawabnya?”
mmm.... kasih tau gak ya?
“iiih Heruuuu...”
Hahahaha... iya iya... Iya, aku mau jadi pacar kamu...
“Bener?”
Ya mana bisa aku tolak kalo kamu yang nembak...
“Hehehehe.... makasih ya Ru... maafin aku sudah nyuekin kamu beberapa hari kemarin”
Coba kamu liat keluar jendela
“Hah? Nggak ah, takut...”
Yeee... liat aja... di gerbang rumah kamu...

Aku bergerak ke jendela dan melihat... ITU... ITU....

“HERU! Ngapain kamu tengah malam begini ke rumahku?”

Aku berlari tanpa sadar ke pintu depan dan membuka gerbang.... Dengan perasaan tak karuan aku menubruk Heru dan memeluknya erat....

“Jangan pernah berhenti menyayangiku...”
“Iya sayang... Aku tak akan pernah berhenti menyayangimu...”

Lalu dia memberikanku sebuah boneka Line Brown. Aku tersenyum... Malam ini Indah... Jika ini mimpi, jangan bangunkan aku....

-END-

No comments:

Post a Comment