"Aku tunggu di tempat pertama kita ketemu ya...."
Tuhaaaan..... Aku senaaaaaang sekali hari ini. SMS barusan itu dari Febri. Cewe yang aku gebet. Aduuuh aku gak tau gimana ngungkapin perasaan ini... Dengan gugup aku memilih2 baju yang pantas. Ini kok baju keliatannya buluk semua sih.... He he he...
Febri sebenarnya adalah cewek yang berasal dari SMP yang sama denganku. Dan kami masuk ke SMA pula. Nah, di kelas 3 ini kami ternyata sekelas. Tapi karena aku yang kutu buku, aku jarang punya waktu untuk memperhatikan teman-teman. Baru beberapa bulan lalu saat aku tak punya bahan bacaan, aku memperhatikan teman-teman dengan cermat. Lalu aku tertegun melihat Febri. Lama aku memperhatikannya. Dia terlihat berbeda. Dulu dia memakai dandanan yang sama: kuncir 2 kiri kanan, berkacamata, dan baju lengan panjang. tapi sekarang, Febri berambut panjang tergerai, memakai lensa kontak dan lengan pendeknya membuat kulitnya yang putih terlihat. Bagiku dia cantik sekali. Sampai akhirnya dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya. Dia pun tersenyum ke arahku sambil mengangguk. EH... aku ketauan deh. Aku membalas senyumnya dan memalingkan muka dengan tergesa-gesa... Huuuuh... sial...
Eh, siangnya pas jam istirahat, terjadi kejadian yang gak bakal aku lupain... Pas itu aku lagi ngemil bakso di gerobag depan sekolah. Sendirian. Aku memang lebih nyaman sendirian sih kalo ngapa-ngapain. Lagi asik-asiknya makan bakso sambil membaca, tiba-tiba, "boleh duduk disini?" sebuah suara mengejutkanku. FEBRI. "Eh, iya, Feb. Duduk aja. kosong kok..." Jawabku gugup dan kaget. Febri duduk dan memesan es jeruk. "Kamu kok sendirian, Van?" Tanyanya sambil melihat buku yang sedang aku pegang. "Oh, iya, aku lebih nyaman kalo sendirian. Soalnya aku lebih seneng baca daripada ngobrol." Jawabku sambil menunduk. Gugup bener deh... "Oh, jadi aku mengganggu kamu nih?" Katanya sambil pura-pura ngambek. "Eh, bukan gitu... Nggak kok... gak ganggu... Aku... aku... malah seneng kalo kamu temenin ngobrol..." Jawabku malu-malu. "Ih Ivan pinter nih ngegombalnya. Ha ha ha ha..." Jawabnya sambil memukul pundakku. He he he... Andai saja kamu tau Feb, aku serius dengan ucapanku. Kali itu, untuk pertama kali aku bisa tertawa-tawa mengobrol, dan melupakan bukuku.
Akhirnya kami bertukar nomor HP. Beberapa hari kemudian aku memberanikan diri mengirim pesan ke Febri.
"Hai"
"Hai juga. Kenapa baru sekarang ngehubunginnya?"
"Aku baru punya pulsa..."
Sebenernya aku bohong. Henponku selalu terisi pulsa walaupun tidak banyak.
"Oh, y udh gpp. btw, kamu ada waktu gak?"
"maksudnya?"
"kamu kan seneng baca, aku mau minta temenin ke toko buku mau beli novel."
"oh... kapan?"
WAAAAW.... ajakan ngedate!!! gileee.... aku sumringah gak reda-reda... tapi masih bisa SMS sok kul...
"besok gimana? jam 3 sore?"
"jam 3... mmm... bisa sih... oke, ketemuan dimana?"
Dan, jawabannya adalah SMS yang seperti di pembuka cerita ini. Jadi sekarang aku sudah siap dengan kaos putih dan jeans hitam kesukaanku. Rambut? maksimal... Ketika turun, di ruang tamu ada mama. "Buseeeet anak mama rapi amat? mau kemana sih?" Kata mama menggodaku. "Ada janji sama temen ma..." jawabku singkat. "Halaaaaah.... temen kok sampe kaya dimandiin parfum gitu kamunya... Temen apa temen???" Goda mama lagi... Iiiiih mama kepo bener sih? he he he... "Aku berangkat ya ma..." aku pamit tanpa menjawab pertanyaan mama. "Heeeh.... orang ditanya gak dijawab... awas ya..." Teriak mama pura-pura marah... He he he...
Sore begini sekolah kok udah sepi ya? Padahal harusnya masih ada yang sekolah... sampai aku sadar ini hari minggu. Heeeeh... Iya ya... dodol nih aku... akhirnya aku bersandar di gerbang sekolah menunggu Febri... Kalo sore begini sekolah jadi sepi bener ya... sayup-sayup terdengar anak-anak ekskul karate yang sedang latihan. teriak-teriak, makanya kedengeran. Hihihi...
Sudah jam setengah 5 aku masih menunggu... Dimana Febri? Aku melihat henponku. Tak ada sms ataupun telpon. Akhirnya aku memberanikan diri meng-SMS Febri.
"dimana?"
"aku masih menunggu..."
"iya dimana?"
"di tempat kamu mengambilkan bukuku yang jatuh setelah bertubrukan dgn orang."
HAH? dimana itu? kapan? Ingatanku flashback beberapa tahun lalu saat aku masih SMP.... AH! SIAL! Cepat aku berlari ke arah SMP Kartika yang berjarak 5 blok dari sini. Cepat.... Cepat... Aku terus berlari walaupun nafasku sudah tersengal dan keringatku bercucuran.... Aku harus cepat.... sampai akhirnya semua gelap....
Aku tersadar di sebuah ruangan... Ini kamarku.... kenapa aku bisa berada disini? "Sudah sadar, Van?" Itu suara mama... "Aku kenapa ma?" Aku meraba kepalaku yang perih. "Kamu terjatuh di depan SMP Kartika. Kata dokter karena kecapekan. Untung ada Febri disitu." Hah? Febri? Jadi Febri yang menolongku? "Febri?" Tanyaku sambil masih mengusap-usap kepalaku. "Iya Febri. Itu di sebelah kamu..." HAH? aku menoleh ke sisi lain tempat tidur. Terlihat Febri duduk sambil tersenyum. "Kamu udah baikan Van?" Tanya Febri. "Eh, iya Feb, tapi kepalaku masih perih..." Kataku gak bisa menutupi kegugupanku... "Mama keluar sebentar ya..." Kata mama penuh kode. Ih mama...
"Kamu nunggu dimana sih?" Tanya Febri kemudian.
"Aku.... aku nunggu kamu di warung bakso depan sekolah..."
"Hihihi... jadi kamu lupa kalo kita pernah ketemu sebelumnya?"
"Iya maafkan aku..."
"Huuuh... dasar kamu..." Febri mencubit pipiku pelan.
"aduuuh... sakit..." Aku pura-pura manja.
Lalu kami berdua tertawa...
"Van, sebenernya aku tuh dari kita ketemu waktu itu, aku udah suka kamu tau Van..."
Aku terkejut...
"Ka... kamu suka aku Feb?"
"Iya..."
Aku masih memandanginya gak percaya...
"Ih Ivaaaaan.... kok ngeliatin aku gitu sih?"
"Eh, hehehehe... nggak, aku cuma gak percaya kita punya perasaan yang sama..."
Febri tersenyum...
"Jujur aja, aku waktu menolong kamu waktu itu, aku memang belum punya perasaan apa-apa, tapi itu adalah kali pertama aku bicara ke anak perempuan selain keluargaku..."
"Ivan...."
"Iya, aku juga suka kamu..."
Lalu kugenggam tangannya.... dan kucium....
"Terima kasih ya Feb...."
Dia tersenyum dan mengangguk...
-END-
Sore begini sekolah kok udah sepi ya? Padahal harusnya masih ada yang sekolah... sampai aku sadar ini hari minggu. Heeeeh... Iya ya... dodol nih aku... akhirnya aku bersandar di gerbang sekolah menunggu Febri... Kalo sore begini sekolah jadi sepi bener ya... sayup-sayup terdengar anak-anak ekskul karate yang sedang latihan. teriak-teriak, makanya kedengeran. Hihihi...
Sudah jam setengah 5 aku masih menunggu... Dimana Febri? Aku melihat henponku. Tak ada sms ataupun telpon. Akhirnya aku memberanikan diri meng-SMS Febri.
"dimana?"
"aku masih menunggu..."
"iya dimana?"
"di tempat kamu mengambilkan bukuku yang jatuh setelah bertubrukan dgn orang."
HAH? dimana itu? kapan? Ingatanku flashback beberapa tahun lalu saat aku masih SMP.... AH! SIAL! Cepat aku berlari ke arah SMP Kartika yang berjarak 5 blok dari sini. Cepat.... Cepat... Aku terus berlari walaupun nafasku sudah tersengal dan keringatku bercucuran.... Aku harus cepat.... sampai akhirnya semua gelap....
Aku tersadar di sebuah ruangan... Ini kamarku.... kenapa aku bisa berada disini? "Sudah sadar, Van?" Itu suara mama... "Aku kenapa ma?" Aku meraba kepalaku yang perih. "Kamu terjatuh di depan SMP Kartika. Kata dokter karena kecapekan. Untung ada Febri disitu." Hah? Febri? Jadi Febri yang menolongku? "Febri?" Tanyaku sambil masih mengusap-usap kepalaku. "Iya Febri. Itu di sebelah kamu..." HAH? aku menoleh ke sisi lain tempat tidur. Terlihat Febri duduk sambil tersenyum. "Kamu udah baikan Van?" Tanya Febri. "Eh, iya Feb, tapi kepalaku masih perih..." Kataku gak bisa menutupi kegugupanku... "Mama keluar sebentar ya..." Kata mama penuh kode. Ih mama...
"Kamu nunggu dimana sih?" Tanya Febri kemudian.
"Aku.... aku nunggu kamu di warung bakso depan sekolah..."
"Hihihi... jadi kamu lupa kalo kita pernah ketemu sebelumnya?"
"Iya maafkan aku..."
"Huuuh... dasar kamu..." Febri mencubit pipiku pelan.
"aduuuh... sakit..." Aku pura-pura manja.
Lalu kami berdua tertawa...
"Van, sebenernya aku tuh dari kita ketemu waktu itu, aku udah suka kamu tau Van..."
Aku terkejut...
"Ka... kamu suka aku Feb?"
"Iya..."
Aku masih memandanginya gak percaya...
"Ih Ivaaaaan.... kok ngeliatin aku gitu sih?"
"Eh, hehehehe... nggak, aku cuma gak percaya kita punya perasaan yang sama..."
Febri tersenyum...
"Jujur aja, aku waktu menolong kamu waktu itu, aku memang belum punya perasaan apa-apa, tapi itu adalah kali pertama aku bicara ke anak perempuan selain keluargaku..."
"Ivan...."
"Iya, aku juga suka kamu..."
Lalu kugenggam tangannya.... dan kucium....
"Terima kasih ya Feb...."
Dia tersenyum dan mengangguk...
-END-
No comments:
Post a Comment