Friday, July 26, 2013

My Day

Pukul 08.11...

Aku dimana ini? Samar-samar aku teringat kalau aku baru saja mengalami kecelakaan. Motorku tertabrak sebuah mobil dan.... Aku tak ingat apa-apa lagi. Aku sudah mati apa belum sih? "Akhirnya mas sadar..." terdengar ucapan lega dari seseorang. Ah, itu suara manusia. Berarti aku belum mati.

"Mas, mas... Mas bisa dengar saya?" kata suara itu lagi. Kucari sumber suara itu. Ternyata suara itu berasal dari mulut seorang suster yang berada tak jauh dariku... Ah, aku ternyata berada di rumah sakit. "Ini dimana saya suster?" aku akhirnya bertanya. "Ini mas di RS Apaajaboleh mas." Ya ya ya, aku tau RS itu. Itu kan RS yang ada di Jl. Gaulabis, Di daerah Jakarta Pusat. Aku mencoba duduk "Ooh... Aduuuh, kepalaku..." Kepalaku terasa nyeri kesemutan. "Mas jangan duduk dulu" Kata si suster, yang sempat kulirik bernama Sally, sambil membantuku kembali berbaring. "Mas sudah 2 hari pingsan, dan bisa meninggal saat dibawa ke RS ini, kalau tidak karena transfusi darah dari orang yang menabrak Mas." Katanya lagi. Aku hanya diam sambil memejamkan mata, mencoba tidur kembali.

Pukul 09.08...

Aku terbangun karena mendengar suara gaduh. Pintu kamar rawatku terbuka. Sesosok wanita masuk dengan membawa parcel buah. Risa. Itu Risa. Itu cewek kampusku yang aku taksir. Tapi aku gak pernah tunjukin. Karena selain dia sudah punya pacar, aku pun bukan orang yang suka menunjukkan perasaan. "Halo Ari... Bagaimana keadaan kamu?" Tanyanya sambil mendekat. Aku mencoba menguasai kegugupanku. "Oh, Hai Ris, aku udah agak enakan. Sama siapa kemari? Kok tau aku dirawat disini?" Kataku. "Aku sendirian kesini. Bolos ngampus. Hehehe..." Katanya sambil meletakkan buah. "Aduuh, kamu bolos kok malah kemari? Gak ngumpul sama cowok kamu aja?" Kataku sambil mencoba duduk. Kepalaku terasa berat. "Udah Ri, baring aja. gapapa... " Katanya sambil membantuku tiduran kembali. Sumpah, aku gugup banget. "Makasih Ris..." Dia hanya mengangguk dan tersenyum. "Mau apel?" katanya sambil memegang sebuah apel. Aku mengangguk, perutku memang terasa agak lapar. Risa lalu mengupaskan apel untukku. "Dia lagi ngampus. Iya, cowokku" Kata Risa melihatku agak kurang mengerti ucapannya. "Oh.." Jawabku pendek. Setelah selesai Risa duduk di pinggiran tempat tidur. "Aku suapin ya..." Pintanya. "Ga usah Ris, aduuh, aku kok jadi ngerepotin kamu?" Aku menolak pelan. "Udah gapapa, gak usah ngerasa gak enak. Lagian juga enak kali, disuapin... masa gak enak?" Paksa Risa sambil memegang sepotong apel yang sudah dikupas. Sambil tersenyum aku membuka mulutku dan memakan apel itu. Ini mimpi bukan sih? He he he...

Pukul 10.50...

Ringtone ponsel Risa berbunyi....
"Hmmm... kenapa?"
"Nggak, aku di rumah kok"
"Ya terserah... Aku udah gak peduli..."
"Ya gak peduli lah, kita kan sudah putus!!"
saat mengucapkan kata putus itu Risa melirikku sedikit. Aku pura-pura tidak melihat.
"Ya sudah!! Gak usah nelpon-nelpon aku lagi!!!"
"Ih kepedean lo! Ngapain gw minta balikan??!!"
"IYA! Gue udah gak sayang lo!! BYE!!"
Risa lalu menutup telponnya. "Maaf ya Ri, kamu jadi dengerin hal yang gak enak." Katanya tanpa menatapku. Tangannya mengambil tissue dan mengelap sedikit sesuatu di matanya. Air mata. Mungkin. "Gapapa kok, Ris. Lagian cuma ada aku disini." Jawabku. Sebenernya aku tuh seneng tau, Ris. He he he... Risa lalu termenung sejenak. "Dia selingkuh Ri. Aku sendiri yang ngeliat." Lalu tanpa ditanya dia menceritakan yang dilihatnya. Aku hanya mendengarkan sambil sesekali menjawab seperlunya. Dia menumpahkan semua uneg2nya. "Maaf ya Ri, aku jadi curhat deh." Katanya mengakhiri ceritanya. "Ya gak apa-apa Ris. Itulah gunanya teman." Saat mengucapkan kata "teman" itu aku terdiam. Ya, aku hanya temannya. Agak sakit sih...

Pukul 12.15...

"Aku pulang dulu ya, Ri. Kamu cepat sembuh... Nanti malam aku datang lagi." Katanya sambil beres-beres. "Oh iya Ris. Hati-hati ya. Makasih lho sudah repot-repot mau jenguk aku." Kataku. Lalu dia keluar. Sebelum dia keluar, dia sempat menoleh dan melambaikan tangan. Aku membalasnya. Yaah... Sepi lagi deh. 

Pukul 15.00...

"Suster Sally masuk. Saatnya perawatan luka, mas." katanya. Lalu dengan lembut namun cekatan dia mengganti perbanku. "Suster..." Panggilku. "Panggil saja Sally mas." Katanya lg. "Oh, baiklah. Sally, selama aku pingsan, kamu yang merawat aku ya?" Tanyaku. "Iya. Aku yang bertugas merawat Mas Ari." jawabnya tanpa melihat. Masih sibuk mengobati lukaku. Kali ini yang di dahiku. "Terima kasih ya. Kamu baik banget" Ucapku sambil tersenyum. Sally tampak terkejut, dan mukanya tampak memerah. "Ah, gapapa lagi mas. Kan memang tugas saya..." Jawabnya sambil tersenyum. Lalu dia menatapku. Pekerjaannya terhenti... Aku juga menatapnya... Lalu muka kami saling mendekat... Dan.... Sebelum terjadi, aku tersadar. "Eh.... Maaf... maaf... aku khilaf..." Kataku. "Mmm... iya mas, gapapa. Aku juga minta maaf ya mas..." lalu dia segera menyelesaikan pekerjannya tanpa kata. Setelah selesai dia pun meninggalkan kamarku...

Pukul 18.30...

Aku masih terbayang yangterjadi tadi sore. Kenapa aku ini? Apa aku suka dengan Sally? Dia memang cukup cantik. Tapi jelas bukan tipeku. "Tok... Tok... Tok..." Ada yang mengetok pintu kamarku. "Masuk!" Seruku agak keras. Seorang wanita masuk. Risa. Ternyata benar, dia datang lagi. "Hai, aku datang lagi nih. He he he..." Sapanya sambil senyum-senyum. Senyum yang maniiiis sekali menurutku. He he he... "Selamat dataaang..." Selorohku yang langsung disambut dengan tawanya. "Kamu gak ada kerjaan banget sih Ris, njenguk aku terus..." Kataku. "Mmmm... Ada sih, tapi aku cancel. Kan aku sudah janji mau datang." Jawabnya. "Ya ampun, Risa... Ngapain kamu cancel. Kerjaan kamu pasti lebih penting daripada sekedar menjenguk aku disini kan??" Aku sedikit sewot. Tapi seneng juga sih. Hi hi hi... "Nggak lah. Menepati janji itu lebih penting. Ya kan?" Jawabnya lagi. "Mmm... iya sih.... Tapi...." "Udah ah bawel. He he he... Kalo gak suka aku pulang nih..." Ancamnya. "Eh, jangan dooong. Aku seneng kamu mau dateng. Seneng banget malah... Makasih ya Ris." Jawabku pelan. Risa tersenyum. "Sama-sama... Baguslah kalo kamu seneng. Lagian..." Risa menghentikan perkataannya. "Lagian apa Ris?" "Lagian sebenernya... sebenernya... aku yang nabrak kamu, Ri." Jawabnya pelan tak berani menatapku. "Aku tau kok, Ris." Jawabku sambil tersenyum. "Hah? kenapa kamu bisa tau? Kamu kan langsung pingsan." Katanya heran sambil menatapku menanti sebuah jawaban. "Ya tau lah, aku hafal mobil kamu, plat nomer kamu. Aku tau semua tentang kamu Ris..." Astaga! Apa yang aku katakan?? Ya ampuuuun... Risa menatapku tak percaya. "Ja... jadi... jadi..." Risa gak mampu menyelesaikannya. Aaaah, sudah kepalang basah. Nyebur aja sekalian... "Iya Ris, sejak pertama kita ketemu di perpus kampus, aku sudah suka kamu..." Kataku sambil menatap matanya. Akhirnya dia menunduk. "Makasih ya Ri. Tapi yang perlu kamu tau, aku juga menunggu pertemuan-pertemuan berikutnya dengan kamu... Tapi tak pernah terkabul. Baru saat ini aku bisa ngobrol banyak sama kamu. Aku juga senang... tapi aku gak bisa jawab selain dengan..... dengan ini..." Wajah Risa maju dengan cepat dan mencium bibirku.... Lama.... sampai akhirnya aku yang tadinya terdiam kaget, mulai membalas ciumannya dan memeluknya.... Dari sudut mataku kulihat Suster Sally yang baru masuk kamar tertegun dan dengan cepat kembali keluar tanpa menimbulkan suara. Tepat ketika pintu tertutup, kami pun memisahkan diri. "Apa itu Risa?" Tanyaku pura-pura bodoh. "Ih kamu... Iya, aku juga suka kamu..." Risa tersenyum sambil mencubitku pelan... Kami tertawa-tawa sepanjang malam...

Pukul 20.46...
"Aku pulang ya Ri... Terima kasih untuk malam ini. Sekali lagi maafkan aku sudah menyebabkanmu begini..." Risa pamit. "Iya Ris, aku juga terima kasih untuk malam ini... Aku... Aku sayang kamu Ris..." Jawabku sambil menatapnya tajam. Risa menatapku sambil tersenyum. Dia menggenggam tanganku... "Aku juga sayang kamu..." Ucapnya tegas. Mengecup pipiku, lalu dia keluar kamar. Setelah itu suster Sally masuk kamarku, tanpa kata-kata, membawakan obat yang harus aku minum setelah barusan aku makan ditemani Risa. Matanya tampak agak bengkak. "Terima kasih Suster" Ucapku. Dia tidak menjawab. Aku pura-pura tidak melihatnya...

Maaf Sally, Kau masih harus sendiri....

No comments:

Post a Comment