Tuesday, July 30, 2013

Beda Tapi Satu

"Aku tunggu di tempat pertama kita ketemu ya...."

Tuhaaaan..... Aku senaaaaaang sekali hari ini. SMS barusan itu dari Febri. Cewe yang aku gebet. Aduuuh aku gak tau gimana ngungkapin perasaan ini... Dengan gugup aku memilih2 baju yang pantas. Ini kok baju keliatannya buluk semua sih.... He he he...

Febri sebenarnya adalah cewek yang berasal dari SMP yang sama denganku. Dan kami masuk ke SMA pula. Nah, di kelas 3 ini kami ternyata sekelas. Tapi karena aku yang kutu buku, aku jarang punya waktu untuk memperhatikan teman-teman. Baru beberapa bulan lalu saat aku tak punya bahan bacaan, aku memperhatikan teman-teman dengan cermat. Lalu aku tertegun melihat Febri. Lama aku memperhatikannya. Dia terlihat berbeda. Dulu dia memakai dandanan yang sama: kuncir 2 kiri kanan, berkacamata, dan baju lengan panjang. tapi sekarang, Febri berambut panjang tergerai, memakai lensa kontak dan lengan pendeknya membuat kulitnya yang putih terlihat. Bagiku dia cantik sekali. Sampai akhirnya dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya. Dia pun tersenyum ke arahku sambil mengangguk. EH... aku ketauan deh. Aku membalas senyumnya dan memalingkan muka dengan tergesa-gesa... Huuuuh... sial...

Eh, siangnya pas jam istirahat, terjadi kejadian yang gak bakal aku lupain... Pas itu aku lagi ngemil bakso di gerobag depan sekolah. Sendirian. Aku memang lebih nyaman sendirian sih kalo ngapa-ngapain. Lagi asik-asiknya makan bakso sambil membaca, tiba-tiba, "boleh duduk disini?" sebuah suara mengejutkanku. FEBRI. "Eh, iya, Feb. Duduk aja. kosong kok..." Jawabku gugup dan kaget. Febri duduk dan memesan es jeruk. "Kamu kok sendirian, Van?" Tanyanya sambil melihat buku yang sedang aku pegang. "Oh, iya, aku lebih nyaman kalo sendirian. Soalnya aku lebih seneng baca daripada ngobrol." Jawabku sambil menunduk. Gugup bener deh... "Oh, jadi aku mengganggu kamu nih?" Katanya sambil pura-pura ngambek. "Eh, bukan gitu... Nggak kok... gak ganggu... Aku... aku... malah seneng kalo kamu temenin ngobrol..." Jawabku malu-malu. "Ih Ivan pinter nih ngegombalnya. Ha ha ha ha..." Jawabnya sambil memukul pundakku. He he he... Andai saja kamu tau Feb, aku serius dengan ucapanku. Kali itu, untuk pertama kali aku bisa tertawa-tawa mengobrol, dan melupakan bukuku.

Akhirnya kami bertukar nomor HP. Beberapa hari kemudian aku memberanikan diri mengirim pesan ke Febri.
"Hai"
"Hai juga. Kenapa baru sekarang ngehubunginnya?"
"Aku baru punya pulsa..."
Sebenernya aku bohong. Henponku selalu terisi pulsa walaupun tidak banyak.
"Oh, y udh gpp. btw, kamu ada waktu gak?"
"maksudnya?"
"kamu kan seneng baca, aku mau minta temenin ke toko buku mau beli novel."
"oh... kapan?"
WAAAAW.... ajakan ngedate!!! gileee.... aku sumringah gak reda-reda... tapi masih bisa SMS sok kul...
"besok gimana? jam 3 sore?"
"jam 3... mmm... bisa sih... oke, ketemuan dimana?"

Dan, jawabannya adalah SMS yang seperti di pembuka cerita ini. Jadi sekarang aku sudah siap dengan kaos putih dan jeans hitam kesukaanku. Rambut? maksimal... Ketika turun, di ruang tamu ada mama. "Buseeeet anak mama rapi amat? mau kemana sih?" Kata mama menggodaku. "Ada janji sama temen ma..." jawabku singkat. "Halaaaaah.... temen kok sampe kaya dimandiin parfum gitu kamunya... Temen apa temen???" Goda mama lagi... Iiiiih mama kepo bener sih? he he he... "Aku berangkat ya ma..." aku pamit tanpa menjawab pertanyaan mama. "Heeeh.... orang ditanya gak dijawab... awas ya..." Teriak mama pura-pura marah... He he he...

Sore begini sekolah kok udah sepi ya? Padahal harusnya masih ada yang sekolah... sampai aku sadar ini hari minggu. Heeeeh... Iya ya... dodol nih aku... akhirnya aku bersandar di gerbang sekolah menunggu Febri... Kalo sore begini sekolah jadi sepi bener ya... sayup-sayup terdengar anak-anak ekskul karate yang sedang latihan. teriak-teriak, makanya kedengeran. Hihihi...

Sudah jam setengah 5 aku masih menunggu... Dimana Febri? Aku melihat henponku. Tak ada sms ataupun telpon. Akhirnya aku memberanikan diri meng-SMS Febri.
"dimana?"
"aku masih menunggu..."
"iya dimana?"
"di tempat kamu mengambilkan bukuku yang jatuh setelah bertubrukan dgn orang."
HAH? dimana itu? kapan? Ingatanku flashback beberapa tahun lalu saat aku masih SMP.... AH! SIAL! Cepat aku berlari ke arah SMP Kartika yang berjarak 5 blok dari sini. Cepat.... Cepat... Aku terus berlari walaupun nafasku sudah tersengal dan keringatku bercucuran.... Aku harus cepat.... sampai akhirnya semua gelap....

Aku tersadar di sebuah ruangan... Ini kamarku.... kenapa aku bisa berada disini? "Sudah sadar, Van?" Itu suara mama... "Aku kenapa ma?" Aku meraba kepalaku yang perih. "Kamu terjatuh di depan SMP Kartika. Kata dokter karena kecapekan. Untung ada Febri disitu." Hah? Febri? Jadi Febri yang menolongku? "Febri?" Tanyaku sambil masih mengusap-usap kepalaku. "Iya Febri. Itu di sebelah kamu..." HAH? aku menoleh ke sisi lain tempat tidur. Terlihat Febri duduk sambil tersenyum. "Kamu udah baikan Van?" Tanya Febri. "Eh, iya Feb, tapi kepalaku masih perih..." Kataku gak bisa menutupi kegugupanku... "Mama keluar sebentar ya..." Kata mama penuh kode. Ih mama...

"Kamu nunggu dimana sih?" Tanya Febri kemudian.
"Aku.... aku nunggu kamu di warung bakso depan sekolah..."
"Hihihi... jadi kamu lupa kalo kita pernah ketemu sebelumnya?"
"Iya maafkan aku..."
"Huuuh... dasar kamu..." Febri mencubit pipiku pelan.
"aduuuh... sakit..." Aku pura-pura manja.
Lalu kami berdua tertawa...
"Van, sebenernya aku tuh dari kita ketemu waktu itu, aku udah suka kamu tau Van..."
Aku terkejut...
"Ka... kamu suka aku Feb?"
"Iya..."
Aku masih memandanginya gak percaya...
"Ih Ivaaaaan.... kok ngeliatin aku gitu sih?"
"Eh, hehehehe... nggak, aku cuma gak percaya kita punya perasaan yang sama..."
Febri tersenyum...
"Jujur aja, aku waktu menolong kamu waktu itu, aku memang belum punya perasaan apa-apa, tapi itu adalah kali pertama aku bicara ke anak perempuan selain keluargaku..."
"Ivan...."
"Iya, aku juga suka kamu..."
Lalu kugenggam tangannya.... dan kucium....
"Terima kasih ya Feb...."
Dia tersenyum dan mengangguk...

-END-

Friday, July 26, 2013

My Day

Pukul 08.11...

Aku dimana ini? Samar-samar aku teringat kalau aku baru saja mengalami kecelakaan. Motorku tertabrak sebuah mobil dan.... Aku tak ingat apa-apa lagi. Aku sudah mati apa belum sih? "Akhirnya mas sadar..." terdengar ucapan lega dari seseorang. Ah, itu suara manusia. Berarti aku belum mati.

"Mas, mas... Mas bisa dengar saya?" kata suara itu lagi. Kucari sumber suara itu. Ternyata suara itu berasal dari mulut seorang suster yang berada tak jauh dariku... Ah, aku ternyata berada di rumah sakit. "Ini dimana saya suster?" aku akhirnya bertanya. "Ini mas di RS Apaajaboleh mas." Ya ya ya, aku tau RS itu. Itu kan RS yang ada di Jl. Gaulabis, Di daerah Jakarta Pusat. Aku mencoba duduk "Ooh... Aduuuh, kepalaku..." Kepalaku terasa nyeri kesemutan. "Mas jangan duduk dulu" Kata si suster, yang sempat kulirik bernama Sally, sambil membantuku kembali berbaring. "Mas sudah 2 hari pingsan, dan bisa meninggal saat dibawa ke RS ini, kalau tidak karena transfusi darah dari orang yang menabrak Mas." Katanya lagi. Aku hanya diam sambil memejamkan mata, mencoba tidur kembali.

Pukul 09.08...

Aku terbangun karena mendengar suara gaduh. Pintu kamar rawatku terbuka. Sesosok wanita masuk dengan membawa parcel buah. Risa. Itu Risa. Itu cewek kampusku yang aku taksir. Tapi aku gak pernah tunjukin. Karena selain dia sudah punya pacar, aku pun bukan orang yang suka menunjukkan perasaan. "Halo Ari... Bagaimana keadaan kamu?" Tanyanya sambil mendekat. Aku mencoba menguasai kegugupanku. "Oh, Hai Ris, aku udah agak enakan. Sama siapa kemari? Kok tau aku dirawat disini?" Kataku. "Aku sendirian kesini. Bolos ngampus. Hehehe..." Katanya sambil meletakkan buah. "Aduuh, kamu bolos kok malah kemari? Gak ngumpul sama cowok kamu aja?" Kataku sambil mencoba duduk. Kepalaku terasa berat. "Udah Ri, baring aja. gapapa... " Katanya sambil membantuku tiduran kembali. Sumpah, aku gugup banget. "Makasih Ris..." Dia hanya mengangguk dan tersenyum. "Mau apel?" katanya sambil memegang sebuah apel. Aku mengangguk, perutku memang terasa agak lapar. Risa lalu mengupaskan apel untukku. "Dia lagi ngampus. Iya, cowokku" Kata Risa melihatku agak kurang mengerti ucapannya. "Oh.." Jawabku pendek. Setelah selesai Risa duduk di pinggiran tempat tidur. "Aku suapin ya..." Pintanya. "Ga usah Ris, aduuh, aku kok jadi ngerepotin kamu?" Aku menolak pelan. "Udah gapapa, gak usah ngerasa gak enak. Lagian juga enak kali, disuapin... masa gak enak?" Paksa Risa sambil memegang sepotong apel yang sudah dikupas. Sambil tersenyum aku membuka mulutku dan memakan apel itu. Ini mimpi bukan sih? He he he...

Pukul 10.50...

Ringtone ponsel Risa berbunyi....
"Hmmm... kenapa?"
"Nggak, aku di rumah kok"
"Ya terserah... Aku udah gak peduli..."
"Ya gak peduli lah, kita kan sudah putus!!"
saat mengucapkan kata putus itu Risa melirikku sedikit. Aku pura-pura tidak melihat.
"Ya sudah!! Gak usah nelpon-nelpon aku lagi!!!"
"Ih kepedean lo! Ngapain gw minta balikan??!!"
"IYA! Gue udah gak sayang lo!! BYE!!"
Risa lalu menutup telponnya. "Maaf ya Ri, kamu jadi dengerin hal yang gak enak." Katanya tanpa menatapku. Tangannya mengambil tissue dan mengelap sedikit sesuatu di matanya. Air mata. Mungkin. "Gapapa kok, Ris. Lagian cuma ada aku disini." Jawabku. Sebenernya aku tuh seneng tau, Ris. He he he... Risa lalu termenung sejenak. "Dia selingkuh Ri. Aku sendiri yang ngeliat." Lalu tanpa ditanya dia menceritakan yang dilihatnya. Aku hanya mendengarkan sambil sesekali menjawab seperlunya. Dia menumpahkan semua uneg2nya. "Maaf ya Ri, aku jadi curhat deh." Katanya mengakhiri ceritanya. "Ya gak apa-apa Ris. Itulah gunanya teman." Saat mengucapkan kata "teman" itu aku terdiam. Ya, aku hanya temannya. Agak sakit sih...

Pukul 12.15...

"Aku pulang dulu ya, Ri. Kamu cepat sembuh... Nanti malam aku datang lagi." Katanya sambil beres-beres. "Oh iya Ris. Hati-hati ya. Makasih lho sudah repot-repot mau jenguk aku." Kataku. Lalu dia keluar. Sebelum dia keluar, dia sempat menoleh dan melambaikan tangan. Aku membalasnya. Yaah... Sepi lagi deh. 

Pukul 15.00...

"Suster Sally masuk. Saatnya perawatan luka, mas." katanya. Lalu dengan lembut namun cekatan dia mengganti perbanku. "Suster..." Panggilku. "Panggil saja Sally mas." Katanya lg. "Oh, baiklah. Sally, selama aku pingsan, kamu yang merawat aku ya?" Tanyaku. "Iya. Aku yang bertugas merawat Mas Ari." jawabnya tanpa melihat. Masih sibuk mengobati lukaku. Kali ini yang di dahiku. "Terima kasih ya. Kamu baik banget" Ucapku sambil tersenyum. Sally tampak terkejut, dan mukanya tampak memerah. "Ah, gapapa lagi mas. Kan memang tugas saya..." Jawabnya sambil tersenyum. Lalu dia menatapku. Pekerjaannya terhenti... Aku juga menatapnya... Lalu muka kami saling mendekat... Dan.... Sebelum terjadi, aku tersadar. "Eh.... Maaf... maaf... aku khilaf..." Kataku. "Mmm... iya mas, gapapa. Aku juga minta maaf ya mas..." lalu dia segera menyelesaikan pekerjannya tanpa kata. Setelah selesai dia pun meninggalkan kamarku...

Pukul 18.30...

Aku masih terbayang yangterjadi tadi sore. Kenapa aku ini? Apa aku suka dengan Sally? Dia memang cukup cantik. Tapi jelas bukan tipeku. "Tok... Tok... Tok..." Ada yang mengetok pintu kamarku. "Masuk!" Seruku agak keras. Seorang wanita masuk. Risa. Ternyata benar, dia datang lagi. "Hai, aku datang lagi nih. He he he..." Sapanya sambil senyum-senyum. Senyum yang maniiiis sekali menurutku. He he he... "Selamat dataaang..." Selorohku yang langsung disambut dengan tawanya. "Kamu gak ada kerjaan banget sih Ris, njenguk aku terus..." Kataku. "Mmmm... Ada sih, tapi aku cancel. Kan aku sudah janji mau datang." Jawabnya. "Ya ampun, Risa... Ngapain kamu cancel. Kerjaan kamu pasti lebih penting daripada sekedar menjenguk aku disini kan??" Aku sedikit sewot. Tapi seneng juga sih. Hi hi hi... "Nggak lah. Menepati janji itu lebih penting. Ya kan?" Jawabnya lagi. "Mmm... iya sih.... Tapi...." "Udah ah bawel. He he he... Kalo gak suka aku pulang nih..." Ancamnya. "Eh, jangan dooong. Aku seneng kamu mau dateng. Seneng banget malah... Makasih ya Ris." Jawabku pelan. Risa tersenyum. "Sama-sama... Baguslah kalo kamu seneng. Lagian..." Risa menghentikan perkataannya. "Lagian apa Ris?" "Lagian sebenernya... sebenernya... aku yang nabrak kamu, Ri." Jawabnya pelan tak berani menatapku. "Aku tau kok, Ris." Jawabku sambil tersenyum. "Hah? kenapa kamu bisa tau? Kamu kan langsung pingsan." Katanya heran sambil menatapku menanti sebuah jawaban. "Ya tau lah, aku hafal mobil kamu, plat nomer kamu. Aku tau semua tentang kamu Ris..." Astaga! Apa yang aku katakan?? Ya ampuuuun... Risa menatapku tak percaya. "Ja... jadi... jadi..." Risa gak mampu menyelesaikannya. Aaaah, sudah kepalang basah. Nyebur aja sekalian... "Iya Ris, sejak pertama kita ketemu di perpus kampus, aku sudah suka kamu..." Kataku sambil menatap matanya. Akhirnya dia menunduk. "Makasih ya Ri. Tapi yang perlu kamu tau, aku juga menunggu pertemuan-pertemuan berikutnya dengan kamu... Tapi tak pernah terkabul. Baru saat ini aku bisa ngobrol banyak sama kamu. Aku juga senang... tapi aku gak bisa jawab selain dengan..... dengan ini..." Wajah Risa maju dengan cepat dan mencium bibirku.... Lama.... sampai akhirnya aku yang tadinya terdiam kaget, mulai membalas ciumannya dan memeluknya.... Dari sudut mataku kulihat Suster Sally yang baru masuk kamar tertegun dan dengan cepat kembali keluar tanpa menimbulkan suara. Tepat ketika pintu tertutup, kami pun memisahkan diri. "Apa itu Risa?" Tanyaku pura-pura bodoh. "Ih kamu... Iya, aku juga suka kamu..." Risa tersenyum sambil mencubitku pelan... Kami tertawa-tawa sepanjang malam...

Pukul 20.46...
"Aku pulang ya Ri... Terima kasih untuk malam ini. Sekali lagi maafkan aku sudah menyebabkanmu begini..." Risa pamit. "Iya Ris, aku juga terima kasih untuk malam ini... Aku... Aku sayang kamu Ris..." Jawabku sambil menatapnya tajam. Risa menatapku sambil tersenyum. Dia menggenggam tanganku... "Aku juga sayang kamu..." Ucapnya tegas. Mengecup pipiku, lalu dia keluar kamar. Setelah itu suster Sally masuk kamarku, tanpa kata-kata, membawakan obat yang harus aku minum setelah barusan aku makan ditemani Risa. Matanya tampak agak bengkak. "Terima kasih Suster" Ucapku. Dia tidak menjawab. Aku pura-pura tidak melihatnya...

Maaf Sally, Kau masih harus sendiri....

Wednesday, July 24, 2013

Ragu Itu Usai

"karena waktu takkan mampu berpihak pada perasaan yang meragu."

Sabtu lalu aku terakhir berkomunikasi dengannya. Aku sebel dengan Heru. Sebab dia tak mengabulkan permintaanku membelikanku boneka. Mulai sabtu lalu aku tidak membalas semua SMS dari Heru. Telponnya pun tak kuangkat. Selama 3 hari ini dia selalu mengirim SMS minimal 10 kali sehari. selalu SMS yang bernada sama. Perhatian-perhatiannya, dan selalu diakhiri dengan "maafkan aku..." Aku sebenarnya tidak marah sih, tapi aku juga gengsi untuk memaafkan dengan begitu saja. Harus lebih dari ini , Ru, untuk mendapat maafku. He he he... 

Hari ini, Rabu, aku bangun tidur kesiangan. Aku harus buru-buru agar tidak terlambat ke kampus. Di perjalanan, aku baru berfikir. Hari ini kenapa bisa aku kesiangan? Oh, itu karena tak ada ringtone yang biasanya selalu membangunkanku. Heru. Kenapa dia tidak menelponku tadi pagi? Biasanya juga jam segini aku sudah menerima SMS ucapan selamat pagi dan jangan lupa sarapan. Tapi, tidak ada. Ah tapi sudahlah. Paling nanti siang dia sudah meminta maaf karena bangun kesiangan. Hi hi hi hi... Heru... Heru...

Aku pulang kuliah sudah jam 7 malam. Oh my God! Hari ini aku sangat capek... Kulihat lagi ponselku. Tak ada satu pun SMS, Telepon, atau bahkan missed call dari Heru. Kenapa orang ini? Tumben sekali tidak meng-SMS ku sama sekali hari ini. Ingin aku mengirim SMS bertanya. Tapi gengsiku menghalangiku. Ah, tidak.

Besoknya, aku juga masih tidak mendapat SMS ataupun telepon dari Heru. Aku mulai gelisah. Ini sudah terlalu tidak biasa. Tapi aku masih terpengaruh gengsiku. Ah, aku coba miss call aja lah. Tidak terlalu mengorbankan gengsi sih kayanya. Ya sudah, akhirnya aku miss call Heru. 1 kali dering. Tuuut... kututup telponku. Aduuuuh... Aku sudah menelponnya. Gimana ini??

Di luar dugaan, tak ada balasan. Baik telpon balik maupun SMS. aku kesal. Akhirnya jam 11 malam jumat ini aku SMS saja.

"SOMBONG!" <delivered>

15 menit kemudian ada balasan:

"Kamu siapa?"

JEDEEEEEERRRR...... Kenapa Heru bilang begitu padaku? Apa maksudnya? Seketika aku langsung pusing... emosiku meluap... Ini anak sombong sekali sih??? masa aku dilupain begitu saja???

"SAYA PACARNYA HERU!" <delivered>

"Saya yang pacarnya Heru. Kamu tidak usah ngaku-ngaku"

Hah? ini pacarnya Heru? Kenapa dadaku jadi sakit begini? aku kan bukan siapa-siapanya Heru? Kenapa aku harus CEMBURU? Lama aku terdiam... Iya aku suka Heru. Hanya saja harga diriku terlalu tinggi untuk mengakuinya. Heru hanya segelintir cowok dari sekian banyak cowok yang mengejar-ngejarku. cowok yang hanya kumanfaatkan untuk membuatkan PR ku, menemaniku belanja, menemaniku ke salon... makan malam...

Aku masih terdiam... ternyata dari sekian banyak cowok, Heru adalah yang paling dekat denganku. Heru satu-satunya yang kuceritakan masalahku atau keluargaku. Heru satu-satunya yang ada saat aku putus dengan Thomas, Luki, Antok, Adit... Hanya Heru yang bisa membuatku tertawa dengan lelucon-leluconnya yang garing menjurus basi... Aku tersenyum dalam derasnya air mataku, mengingat konyolnya wajah Heru saat menirukan muka para minions di film yang baru saja kami tonton minggu lalu...

Semua itu tinggal kenangan. Heru kini sudah bisa melupakanku. Aku bukan lagi siapa-siapanya. Bukan lagi idolanya, atau sekedar gebetannya, aku kini hanyalah aku. seorang cewek bodoh yang selama ini menyia-nyiakan kasih sayang orang yang dengan tulus mencintai dan menyayangiku... Air mataku tak berhenti mengalir...

Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi. HERU! Heru meneleponku! Aku... Aku... Aku harus bagaimana?? Akhirnya aku angkat....

"Halo..."
"Bagaimana kalau benar?"
"Ap.... Bagai....."
"Iya, bagaimana kalau benar aku punya pacar dan kamu tak ada lagi di benakku?"
"Heru! Kamu bicara apa sih?"
"Jawab aja..."
"............"
"Kenapa diam?"
"Tidak mau."
"Apa?"
"Aku tidak mau."
"tidak mau apa?"
"AKU TIDAK MAU KAMU PUNYA PACAR!!"
"Hah?? Kenapa??"
"AKU YANG AKAN JADI PACAR KAMU...."

Aku menangis sekencang-kencangnya....

"Kamu kenapa bilang begitu..."
"Iya... Aku tau aku selama ini jahat sama kamu. Aku selalu manfaatin kamu. Aku cuekin semua rasa sayang kamu ke aku... sekarang aku sadar. Hanya kamu yang aku mau. Hanya kamu yang ngertiin aku..."
"lalu?"
"Aku mau jadi pacar kamu... kamu mau kan jadi pacar aku?"
"hmmm.... bagaimana ya? Hehehehe...."
“Hah? Iiiiih Heruuuu....”
Hahahaha.... bagaimana ya? Sebenarnya tanpa aku jawab pun kamu sudah tau jawabanku kan?
“hihihihi nggak tau ah... aku kan ga sotoy kaya kamu...”
Yeee... malah ngatain... ya udah gak aku kasih tau...
“eh.. eh,.. iya maaf... apa jawabnya?”
mmm.... kasih tau gak ya?
“iiih Heruuuu...”
Hahahaha... iya iya... Iya, aku mau jadi pacar kamu...
“Bener?”
Ya mana bisa aku tolak kalo kamu yang nembak...
“Hehehehe.... makasih ya Ru... maafin aku sudah nyuekin kamu beberapa hari kemarin”
Coba kamu liat keluar jendela
“Hah? Nggak ah, takut...”
Yeee... liat aja... di gerbang rumah kamu...

Aku bergerak ke jendela dan melihat... ITU... ITU....

“HERU! Ngapain kamu tengah malam begini ke rumahku?”

Aku berlari tanpa sadar ke pintu depan dan membuka gerbang.... Dengan perasaan tak karuan aku menubruk Heru dan memeluknya erat....

“Jangan pernah berhenti menyayangiku...”
“Iya sayang... Aku tak akan pernah berhenti menyayangimu...”

Lalu dia memberikanku sebuah boneka Line Brown. Aku tersenyum... Malam ini Indah... Jika ini mimpi, jangan bangunkan aku....

-END-

Wednesday, July 17, 2013

I Love You

Kami sedang berjalan menuju sekolah...

"kamu tuh yang cemburuan..." kataku sambil menahan emosi. "siapa yang cemburuan??" 

jawabnya sambil bertolak pinggang.

"Ya kamu..."
"ih, sama kamu? jangan Ge Er deh..."

Dia berkata begitu lalu memalingkan mukanya. Sok jual mahal. he he he...

"Alaaaah... ngaku aja deh... kamu cemburu sama si Meisya kaan?"

Meisya itu teman kelasku yang cantik dan populer. Dia memang akhir-akhir ini suka caper sama aku. Bawain makanan, ajak aku ke kantin waktu istirahat, pokoknya macem-macem deh... Aku sih biasa aja. Malah kebanyakan tawarannya aku tolak. Aku sih mending main sama Dira. Tapi Meisya tetap saja melancarkan serangan.

Belakangan sahabatku si Dira ini, iya yang sedang bertengkar denganku sekarang, malah jadi sebel sama aku.

"Ngapain aku cemburu sama Meisya jelek itu.... Kamu juga jelek... aku sebel sama kamu..."
"lho, sebel kenapa?"
"ya sebel aja... Kamu tuh orang paling nyebelin sejagad raya alam semesta..."
"kamu juga... Orang paling bawel sedunia dan sebulan..."
"ya udah, aku gak akan mau pulang bareng kamu lagi!"
"kamu juga, pergi sekolah juga gak usah nunggu aku lewat..."
"ya udah!"
"ya udah sana!"

Lalu dia masuk ke SD 307, sementara aku melanjutkan langkahku ke SD 476 di blok sebelah...

.

.

.

.

.

"aku dulu ambekan ya abii?"
kata Dira sambil melihat-lihat fotonya dan aku waktu SD dulu.

"iya... Ummi dulu ambekan dan cemburuan..."

Kataku sambil membereskan foto-foto perayaan ulang tahun pernikahan kami yang ke-20 yang bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-50.

"ih abii..."
"aduh... jangan cubit-cubit dong sayang... sakit nih..."

Aku menahan suaraku karena takut terdengar si bungsu yang tertidur pulas di dekat kami...

"abisan abii..."
"i love you ummi..."
"i love you abii..."

Lalu dia menggenggam tanganku dan menarikku ke kamar tidur...

Tuesday, July 16, 2013

Ceritaku

Sabtu itu sepulang sekolah aku melihat cewek itu lagi... kali ini dia bersama Imam, anak kelas 2F. Ini cowok ketiga yang kulihat bersamanya sepulang sekolah dalam waktu 2 minggu ini. Aku gak tau kenapa aku jadi penasaran sama cewek itu. Nggak, wajahnya nggak cantik-cantik banget. Walaupun memang manis, sih. Tapi yang paling membuat aku penasaran itu tingkahnya yang selalu berganti-ganti cowok. Nggak, aku gak cemburu kok. Bener deh.

Kami sama-sama kelas 1. Gue 1C, dia 1F. Cerita kami dimulai saat MOS. Kelompokku yang semua cowok harus berpasangan demgan kelompoknya yang semua cewek. Karena kelebihan satu orang, jadinya aku gak kebagian pasangan. Sial! Oh, iya, dia bernama Dera. Jadinya aku waktu MOS suka bengong aja kalo ada acara yang harus berpasangan. Huh!

MOS pun selesai, cerita kami tak berlanjut sampai saat ini.

Senin...
Aku melihatnya lagi. Lebih tepatnya berpapasan. Matanya bengkak....
"kamu kenapa?"
Aku sendiri kaget. Tanpa bisa kubendung, kata-kata itu keluar dari mulutku.
"eh, oh, kamu, Dik, nggak apa-apa kok."
Dia masih ingat namaku, walaupun sudah 3 bulan dari MOS waktu itu. He he he...
"nggak apa-apa gimana? itu mata kamu kaya maling ayam digebukin warga gitu..."
Dia tersenyum sedikit.
"Aku duluan ya, Dik."
"Ya sudah..."
Lalu kami berpisah...

Handphoneku berbunyi. nomornya tidak kukenal.
"Hallo"
"Hallo, Didik. Ini Dera, Dik."
"Eh, Dera? Oh, Dera... Ya ya... Kenapa Der?"
"Maaf ya tiba-tiba menelpon... Aku minta nomor kamu dari Sulis."
Ah, si Sulis, dia lagi-lagi sembarangan memberikan nomer telponku...
"Oh iya gak apa-apa. Ada perlu apa ya Der?"
"Nggak, aku cuma mau say hi..."
"Ha? Ap.... okay... Haaaaai....."
Sumpah, itu garing banget... Iya, aku grogi...
"hihihihi... Iya, haaaai..."
Lalu kami berdua tertawa...
"Ya udah ya, Dik. Aku cuma mau berteman sama kamu..."
"Iya, salam kenal ya..."
"Besok mau berangkat bareng gak? Rumah kita kan searah."
Dia bahkan tau rumahku... Benar-benar kecolongan aku...
"Oh, iya oke..."
"Sampai besok ya, Dik."
"Iya sampai besok..."
Lalu aku menutup handphoneku dan tersenyum...

Ceritaku dimulai (lagi) besok...

Aku... Kau... Kita...

Hari ini.... Satu bulan lalu...

"hai..."
"hai... sudah puas marahnya?"
"siapa yang marah?"
"kamu..."
"nggak... aku nggak marah kok."
"lalu, mendiamkanku seharian apa maksudnya?"
"kamu yang bilang kamu kuat..."
"kapan?"
"semalam."
"........"
"iya kan?"
"iya... tapi...."
"tuh, benar kan..."
"iya maafkan aku..."
"gak ada yang perlu dimaafkan..."
"tapi maafin aku..."
"iya iya... #getok"
"makasih...."
"sama-sama..."
" :) "
"gimana rasanya?"
"apa?"
"nggak ditegur seharian?"
"biasa aja tuh..."
"oooh... kuat ya?"
"enggaaaak... aku kehilangan kamu..."
"lho, kenapa?"
"nggak tau, seperti ada yang hilang saja..."
"wow... seperti putus sama pacar saja..."
"hahaha... ya seperti itulah kira-kira..."
"hehehe... aku sebenernya takut..."
"takut? pada apa?"
"takut semakin sayang kamu..."
" :) "
"takut jadi cinta kamu... takut kamu menghilang..."
"kenapa aku harus menghilang?"
"ya karena kamu gak suka aku?"
"hehehe... gak perlu takut, aku gak bakal menghilang..."
"kamu yakin?"
"iya soalnya dari kejadian hari ini, aku sadar...."
"apa?"
"iya, aku juga takut kehilangan kamu... aku juga sayang kamu..."
"apakah kita kini berpacaran?"
"kamu mau nggak?"
"aku speechless... hehehe..."
"iiiih.... mau apa nggak? #getok"
"eh, iyaaaa iyaaa... aku mau jadi pacar kamuuu... duuuh :) "
"tapi janji ya..."
"janji apa?"
"jangan mendiamkan aku lagi... aku gak kuat kalau gak ada kamu..."
"iya sayang... aku janji... I Love You..."
"I Love You Too..."

Satu Hari... Satu Momen... Satu Hati...

Aku... Kau... Kita...